Postingan

Saksi

Barangkali kami cuma rentetan gedung tinggi baja beton, yang sengaja dibuat demi keberlangsungan adil atau kelancaran lakon. Abu-abu, tinggi, bisu, dan, mati--barangkali memang begitulah potret adil yang kalian imani.  Barangkali kami cuma sulur-sulur dedaunan, dan batang, dan akar, yang kerap menjumpa manusia berkelakar, walau lebih sering bertengkar. Kokoh, langka dan tak banyak yang peduli--barangkali memang begitulah potret toleransi yang kalian pahami. Barangkali kami cuma oplet-oplet tua yang kehabisan bahan bakarnya, yang kerap dijejal makhluk beragam rupa, pulang pasar, berangkat kantor, hendak belajar, hendak naik pamor. Tua, tergesa-gesa, dan kumuh tiada tara--barangkali memang begitulah potret moral dan etika. Barangkali kami bisu, buta, dan tuli, kerap menyaksikan, tanpa bisa berbuat apapun yang mampu membenahi. Barangkali kami bersuara tanpa suara. Barangkali kami melihat tanpa cahaya. Barangkali kami mencium tanpa terasa. Barangkali benar, kami benda-benda mati. Ah Tu...

Dari Ningsih untuk Mandala

 Dari Ningsih untuk Mandala Man, malam kau izin untuk ikut barisan itu, kalau bisa, aku hendak bilang tidak. Tapi aku bisa apa, Man? Bukankah egois bila pentingkan hatiku di atas perjuanganmu? Bukankah kacau bila aku tak pahami beban yang kau pangku? Bukankah negeri kita lebih butuh pemudanya untuk maju ketimbang mundur dan berbulan madu? Aku ingat, Man. Malam itu kau datang dengan sekujur muka lebam-lebam. Membawaku pada berita harian yang selalu terputar dari radio Bapak setiap kali aku menyapu halaman. Katanya, ada serangan dari penjajah, dan pemuda-pemuda sekali lagi terjarah. Mandala, hendak kukatakan bahwa, mencintaimu nyatanya begitu sulit. Penderitaan rakyat berada di antaranya, dan pilihannya hanya dua; aku yang sakit, atau kau yang tak lagi bangkit. Mandala, mencintaimu nyatanya pahit. Tapi semua itu cuma ada di pikiranku, kau tak perlu tau. Tak perlu keegoisanku ini berdampak padamu. Maka malam itu yang kukatakan justru berkebalikan. Berjalanlah, Man. Maju saja, aku akan...

Jemma Adam #3

 Aku kembali tidak masuk akalmu, ya, Dam? Terbukti. Tatapanmu begitu sangsi. Begitu ingin mengkritisi. "Kamu konyol. Emangnya kita bisa tau kapan kita nyakitin seseorang?" tanyamu, sebagai respon dari pernyataanku barusan; Kita selalu bisa tahu kapan kita menyakiti orang lain, Dam. Selalu. Kamu pasti tahu betul tentang hal itu. Tidak ada suara debur ombak yang setidaknya membunuh sunyi. Cuma beberapa bintang yang kebetulan intip-intip menemani. "Sure, kita bisa sadar. Mungkin kitanya aja yang nggak mau tau?"  "Apa tanda-tandanya?" "Tanda-tanda yang kita rasain kalau nyakitin orang lain?" tanyamu lagi. Aku berani bersumpah, kalau ada seorang di dunia ini yang ingin ku hindari dalam lomba debat, orang itu adalah kamu, Dam. Nada bicaramu terlalu tajam, tapi entah bagaimana bukan sakit yang kurasakan, aku justru, kewalahan? Aku mungkin bisa mengalah kalau kau pinta. Meski aku sendiri keras kepala. "Kita menyakiti orang saat kita nggak bahagia. S...

Jemma Adam #2

"Kau masih suka menulis?" ㅤㅤPertanyaanmu kala itu hanya kujawab anggukan, kan, Dam? Sederhana sekali. Padahal bagiku, itu pertanyaan yang kompleks. ㅤㅤAku hanya tidak mau kau mengulik lebih lanjut, aku belum siap kalau kau kemudian bertanya, menulis tentang apa? Menulis tentang siapa? Apa ada kita di--ah bodoh, abaikan. Imajinasiku memang sudah bergerak kejauhan. ㅤㅤKadang-kadang aku takut, Dam. Aku takut akan terbangun dan melupakan segalanya, aku takut akan terbangun dengan perasaan kosong yang membuatku ingin lari sampai surya setinggi kepala, dan, dan siapa pula yang bisa jamin esok aku masih buka mata? ㅤㅤMungkin karena itu aku masih terus menulis. Menuliskan apa saja yang aku temukan, dan yang masih kucari dalam pikiran. Orang-orang berpikir untuk menulis. Aku? Dari menulislah aku berpikir. Barangkali sebab itu, tulisanku tak pernah menemui akhir. Sebab seiring aksara yang kuukir, ada hal baru yang senantiasa lahir. ㅤㅤ"Jemma, kalau kehidupan kita adalah cer...

Jemma Adam #1

Begini, Bapakku bilang, seorang lelaki harus jadi berani. Betul, tidak masalah untuk sesekali ber-air mata, toh, kita semua cukup manusia. Menjadi sedih itu bukan dosa. Menjadi tidak baik-baik saja itu bukan nista. ㅤㅤTapi, Dam. Berani itu penting, apalagi berani menerima dan memaafkan dengan rela. Iya, aku tahu, orang-orang banyak berkoar perihal roda kehidupan. Sementara di ujung lainnya, banyak yang harus menerima kalau ternyata roda mereka nggak bergerak barang sesenti. Roda mereka berhenti, dan mungkin, memang begitu takdir yang harus mereka imani. ㅤㅤTapi, Dam. Bukankah kita memang sesekali butuh berhenti? Bukankah memang, kita tidak akan abadi? Sama seperti waktu kau tidur dan mencukupkan bekerja, sama seperti kau diam dan mencukupkan beradu dengan dunia. ㅤㅤ"Kalau lahir kembali, aku lebih baik jadi buih di lautan saja," katamu waktu itu. Angin pantai menerbangkan rambutmu yang mulai gondrong sebahu, pasti sudah nggak cukur dua bulan. Kebiasaan. ㅤㅤ"Ibukmu gim...

Kalau Kau Karya Seni di Museum

pagi ini aku terbangun dan buru-buru pakai mantel paling nyaman, jalanan akan sepi karena ini hari kerja, tidak ada yang berangkat liburan (kecuali aku, tentu saja). tapi aku tidak pernah pergi jauh-jauh, hanya mau naik kereta dan turun di salah satu stasiun terdekat museum kota, mampir di toko bunga sebentar, siapa tahu bisa kutaruh di taman (itupun kalau tidak dimarahi satpam), tapi ya, aku kan mau menghargai pahlawan, kalau kutaruh bunga di taman museum kota, patung-patung di dalam boleh jadi tersenyum melihatnya. aku masuk dan bayar karcis, lalu bertemu serombongan keluarga. bapak, ibu, dan anak lelakinya. ibunya bilang jangan jauh-jauh, nanti barang yang rapuh bisa jatuh. bapaknya beda lagi, menakut-nakuti, seolah ada yang bisa hidup dari patung-patung yang mati. tapi bapaknya tidak seratus persen salah, kau ada di sana. di tempat paling pojok barisan patung pejuang. hormat tegap, dan sempat membuat patung lain jadi gagap. tapi siapa peduli? pada akhirnya kau jadi patung juga...

Cita-Cita

aku malu sekali untuk bilang pada ibu. di pagi yang dulu, aku sempat punya cita-cita jadi penulis buku. tidak perlu yang luar biasa, cerita anak-anak saja. mimpi itu kemudian kugantungkan di buku matematika. yang mana kemudian ibu menyadari, sebab ada empat di halaman depannya. ibu menjemur buku matematikaku dan tidak berkata apa-apa. aku tahu ia marah, ia ingin aku jadi pegawai negeri. anak pertama penghasilannya harus bisa menyekolahkan adik-adik nanti. siangnya aku bercita-cita jadi penyanyi. ibu menerka-nerka kenapa ada suara yang berisik sekali di kamar mandi. maka ia mencuci pakaian-pakaian di lemari, mendekat dan mendengarku sambil berbisik-bisik sendiri. suaraku di simpannya di kantung celana, bukan yang dangkal, kantungnya sedikit panjang, hingga susah bagiku untuk menggapai dan membebaskan. matahari kemudian terbenam dan aku mengabadikannya dalam ingatan, lalu sekejap saja, aku mau jadi pelukis. maka ku ambil oranye dari baskara, biru dari samudera, hijau dari bumanta...